This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Salam Redaksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salam Redaksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Sudut Pandang Prestasi Siswa

ilustrasi

Seperti biasa, tiap kali pembagian raport semester pasti diiringi  berbagai cerita menarik dan mengejutkan. Sebagian orang tua siswa menampakkan ekspresi gembira, sementara sebagian yang lain berkerut dahi melihat dua rapor putra-putrinya.
Perbedaan ekspresi tersebut dilandasi pada perbedaan pemahaman orang tua akan prestasi siswa. Jika selama ini pengertian dianalogikan dalam wujud angka-angka yang besar di rapor, maka sejak diungkapkan dan disosialisasikannya kecerdasan majemuk (multiple intelligence) di lingkungan sekolah maka paradigma kecerdasan anak telah mengalami perubahan.
Kalimat sederhana yang se­ring muncul dalam pembagian rapor pada masa yang lalu adalah nilai anak saya berapa? Dengan demikian guru akan mencoba menjawab dengan angka yang tertera dalam rapor siswa. Hampir semua orang tua sepakat bahwa jika nilai anaknya di atas 75, berarti putra/putrinya pintar dan cerdas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemahaman ini telah diwarisi secara turun-temurun. Permasalahannya adalah zaman sudah berubah, dahulu siswa “dipaksa” untuk diam dan menuruti kehendak guru yang mengajar, maka sekarang telah berubah. Siswa memiliki cara belajar berbeda, dan memerlukan perlakuan yang berbeda pula. Jika kita mau lebih mendalami anak-anak, maka akan kita lihat bakat dan kemampuan anak-anak yang mungkin belum tersibak keberadaanya.
Pada prinsipinya, Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki se­seorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal.
Secara umum, potensi dapat diklasifikasikan sebagai tingkat intelegensi, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap, ketekunan, ketelitian, efisiensi kerja dan daya tahan terhadap tekanan. pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan, serta kebiasaan se­seorang, baik jasmaniah, rohaniah, emosional maupun sosial yang ditata dalam cara khas di bawah aneka pengaruh luar.
Menurut Howard Gardner, potensi yang terpenting adalah intelegensi, yaitu sebagai berikut.
Intelegensi linguistik, intelegensi menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan maupun tulisan, secara efektif. Intelegensi ini antara lain dimiliki oleh para sastrawan, editor, dan jurnalis.
Intelegensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan pada kepekaan pola logika dan perhitungan.
Intelegensi ruang, kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan benda secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para arsitek, dekorator dan pemburu.
Intelegensi kinestetik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kemampuan ini dimiliki oleh aktor, penari, pemahat, atlet dan ahli bedah.
Intelegensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara. Kemampuan ini terdapat pada pencipta lagu dan penyanyi.
Intelegensi interpersonal, kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, motivasi, dan watak temperamen orang lain seperti yang dimiliki oleh se­seorang motivator.
Intelegensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi(merenung) dan ke­seimbangan diri.
Intelegensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna.
Intelegensi eksistensial, kemampuan seseeorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus diciptakan dan mengapa kita hidup dan ak­hirnya mati.
Kekeliruan kita sebagai guru, orang tua, dan pemandu siswa dalam membaca potensi dan kecerdasan anak dapat berakibat pada tenggelamnya bakat anak yang luar biasa, berganti menjadi sebuah apa­tisme dan ketidak pedulian. Sebaliknya, kejelian mata kita melihat potensi maka akan membuat setitik harapan itu menjadi menara ekselen dari sebuah kepakaran yang terbangun dari fondasi yang kokoh.


Tri Bowo Laksono
Kepala sekolah SD Global Surya School

Siapa Bilang Pelajaran Sejarah Membosankan

Albert Alam, S.Pd, M.Pd

Suatu ketika, saat pelajaran Sejarah tengah berlangsung di sebuah kelas, ada seorang guru bertanya kepada muridnya, “Kapan Perang Diponegoro terjadi?” tanyanya. Beberapa siswa sontak meng­acungkan tangan. Sang guru kemudian menunjuk salah satunya. Dengan lantang, siswa yang ditunjuk tersebut menyahut, “Habis Maghrib, Pak!”
Di waktu yang berbeda, masih terkait Perang Diponegoro, sang guru bertanya, “Setelah melakukan gerilya dengan pasukannya, Diponegoro kemudian melarikan diri ke ...?” Jawaban yang terlontar dari siswa pun di luar perkiraan. Dengan suara lantang, keluarlah jawaban, “Ketakutan.”
Kontan saja, kelas riuh dengan gelak tawa. Guru yang bertanya pun bengong sesaat. Kemudian, dia menenangkan siswanya dengan nada membentak. Ini bukan sekadar anekdot. Cerita ini disampaikan Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia Susanto Zuhdi.
Menurutnya, saat ini generasi muda sangat kreatif, berpikiran lebih bebas, dan terbuka. Karenanya, metode pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar le­bih menyenangkan, tidak membosankan. Tentu saja, agar jawaban serupa “habis Maghrib” dan “ketakutan” itu tidak muncul lagi.
Jawaban spontan dari siswa, seperti kisah di atas, bukan mengartikan bahwa mereka tak tahu jawabannya. Justru karena jawaban yang sudah ada itu cenderung membuat siswa jenuh dan mencari cara lain agar lebih enjoy.  “Me­reka tahu, Perang Diponegoro terjadi pada 1825-1830. Tapi, saking detilnya, muncullah jawaban sehabis Maghrib tadi,” ujar Susanto sambil  tertawa. Pelajaran Sejarah yang berisi banyak hafalan dan menyediakan jawaban tampaknya memang perlu disikapi dengan lebih bijak agar materinya bisa lebih mudah terekam oleh siswa.
Susanto yang juga staf ahli Menteri Pertahanan itu tidak sepakat dengan pernyataan bahwa pelajaran Sejarah bukan hal yang menarik. Sebaliknya, Susanto menilai, pelajaran Sejarah justru pelajaran yang penuh pesona. Menurutnya, masa lalu selalu menarik. “Kita saja yang tidak bisa mengemasnya.”
Belajar tentang masa lalu, kata Susanto, bisa menarik bila dimasukkan unsur makna dari peristiwa-peristiwa tersebut. Dia mengatakan, ada tiga sebab mengapa orang berkepen­tingan dengan sejarah. Pertama, orang memang ingin tahu sejarah yang penuh misteri dan memesona. Syaratnya, dia harus penasaran karena harus selalu bertanya.
Kedua, orang belajar sejarah untuk tahu pengalaman orang lain. Orang bijak tidak akan belajar dari pengalam­annya sendiri, tapi dari pengalaman orang lain. Ketiga, sejarah menciptakan kelompok komunitas, kelompok kemanusiaan, dan menggugah rasa nasionalisme. Ini karena sejarah menjadikan satu kesatuan pengalaman. “Jadi, secara individu maupun kelompok, sejarah itu menarik,” kata Susanto.
Salah satu cara untuk menjadikan pelajaran Sejarah menarik dan tidak membosankan adalah dengan kegiatan Lawatan Sejarah Nasioanal (Lasenas) X. Acara ini merupakan program tahunan Kemendikbud yang diselenggarakan oleh Dirjen Kebudayaan, Direktorat Sejarah, dan Nilai Budaya. Menurut Susanto, Lasenas adalah cara belajar sejarah yang menyenangkan. Kemasan pendidikan Sejarah dengan berkunjung langsung ke tempat-tempat bersejarah patut diapresiasi. Lasenas, kata Susanto, bisa memperkuat ingatan politik dan sejarah generasi muda dengan cara yang disukai mereka.
Susanto mencontohkan, beberapa tahun lalu ada seorang pelajar dari Amerika yang berkujung ke Morotai. Untuk apa? Ternyata, anak tersebut ingin melihat langsung jejak peninggalan kakeknya sewaktu berperang melawan Jepang. “Karena jejak peninggalannya ada di Morotai, ribuan kilometer pun harus dia tempuh. Ini karena instruksi sejarah, ada perintah masa lalu,” ujarnya. (**)

Salam

Albert Alam, S.Pd, M.Pd

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More